
Nilai tukar rupiah dibuka menguat pada perdagangan Kamis (29/1) pagi. Mata uang Garuda berada di level Rp16.722 per dolar AS, menguat sekitar 46 poin atau 0,27 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya. Penguatan rupiah kali ini tidak lepas dari sentimen domestik yang dinilai cukup positif, meski tekanan global masih membayangi pergerakan mata uang negara berkembang. Di saat yang sama, pergerakan mata uang di kawasan Asia terpantau bervariasi.
Yen Jepang tercatat menguat 0,11 persen, sementara baht Thailand justru melemah 0,18 persen. Yuan China turun tipis 0,01 persen dan peso Filipina melemah 0,17 persen. Di sisi lain, won Korea Selatan tampil cukup kuat dengan kenaikan 0,52 persen. Untuk mata uang kawasan, dolar Singapura dan dolar Hong Kong sama-sama bergerak melemah tipis masing-masing 0,02 persen dan 0,01 persen pada pembukaan perdagangan pagi.
Sementara itu, mata uang utama negara maju juga tidak bergerak seragam. Euro Eropa tercatat menguat 0,08 persen dan franc Swiss naik 0,14 persen. Sebaliknya, poundsterling Inggris melemah 0,03 persen. Dolar Australia ikut tertekan dengan pelemahan 0,21 persen, sedangkan dolar Kanada masih mampu menguat tipis 0,04 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai penguatan rupiah saat ini berpotensi tidak bertahan lama. Menurutnya, dolar AS berpeluang kembali menguat setelah Ketua The Federal Reserve, Jerome Powell, menyampaikan pernyataan bernada hawkish dalam rapat Federal Open Market Committee (FOMC).
“Rupiah diperkirakan akan kembali melemah seiring dolar AS yang rebound setelah pernyataan hawkish Jerome Powell. Investor juga masih mengantisipasi dan mewaspadai kondisi ekuitas domestik, terutama setelah terjadi aksi jual (sell-off) pada perdagangan kemarin,” ujar Lukman kepada CNNIndonesia.com.
Dengan mempertimbangkan sentimen global dan domestik tersebut, Lukman memperkirakan pergerakan rupiah hari ini akan berada dalam rentang Rp16.700 hingga Rp16.800 per dolar AS.
Meski dibuka menguat, pasar tetap bersikap hati-hati, terutama menjelang perkembangan kebijakan moneter AS dan respons investor terhadap kondisi pasar saham domestik yang masih bergejolak.
คำชี้แจง (Disclaimer) : เนื้อหาข้างต้นเป็นเพียงมุมมองของผู้เขียนแต่เพียงผู้เดียว และไม่ได้แสดงหรือสะท้อนถึงจุดยืนอย่างเป็นทางการของ Followme แต่อย่างใด Followme ไม่รับผิดชอบต่อความถูกต้อง ความครบถ้วน หรือความน่าเชื่อถือของข้อมูลที่ปรากฏ และจะไม่รับผิดชอบต่อการดำเนินการใด ๆ ที่เกิดขึ้นจากเนื้อหานั้น เว้นแต่จะมีการระบุไว้เป็นลายลักษณ์อักษรอย่างชัดเจน

-จบ-