
Nilai tukar rupiah masih bergerak di zona merah pada perdagangan Selasa (23/6) pagi. Mata uang Garuda tercatat berada di level Rp17.855 per dolar AS, melemah 12 poin atau sekitar 0,07 persen dibandingkan penutupan perdagangan sebelumnya.
Pelemahan rupiah terjadi seiring tekanan yang juga dialami sebagian besar mata uang di kawasan Asia terhadap dolar Amerika Serikat. Peso Filipina menjadi salah satu mata uang dengan koreksi terbesar setelah melemah 0,37 persen. Yen Jepang turun tipis 0,01 persen, sementara dolar Hong Kong juga terkoreksi 0,01 persen.
Di sisi lain, beberapa mata uang Asia masih mampu mencatatkan penguatan terhadap dolar AS. Yuan China naik 0,03 persen dan ringgit Malaysia menguat 0,31 persen. Sementara itu, dolar Singapura dan won Korea Selatan bergerak relatif stabil pada perdagangan pagi ini.
Pergerakan mata uang negara maju juga menunjukkan arah yang beragam. Euro melemah 0,01 persen terhadap dolar AS, poundsterling Inggris turun 0,05 persen, dolar Australia terkoreksi 0,25 persen, dan dolar Kanada melemah 0,03 persen. Sebaliknya, franc Swiss menguat tipis sebesar 0,02 persen.
Analis Mata Uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai rupiah masih berpotensi menghadapi tekanan dalam jangka pendek seiring menguatnya dolar AS di pasar global.
Menurutnya, keraguan investor terhadap perkembangan pembicaraan damai antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi salah satu faktor yang mendukung penguatan dolar AS. Selain itu, pasar juga masih mencermati prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve yang dinilai tetap menjadi sentimen utama pergerakan mata uang global.
"Rupiah diperkirakan masih akan melemah terhadap dolar AS yang kembali menguat oleh ketidakyakinan investor pada pembicaraan damai AS-Iran serta prospek suku bunga The Fed," ujar Lukman.
Untuk perdagangan hari ini, ia memperkirakan rupiah bergerak dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.
Pelaku pasar saat ini masih menunggu perkembangan terbaru dari negosiasi AS-Iran serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat. Kedua faktor tersebut diperkirakan akan terus menjadi penentu utama pergerakan dolar AS dan nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu ke depan.
คำชี้แจง (Disclaimer) : เนื้อหาข้างต้นเป็นเพียงมุมมองของผู้เขียนแต่เพียงผู้เดียว และไม่ได้แสดงหรือสะท้อนถึงจุดยืนอย่างเป็นทางการของ Followme แต่อย่างใด Followme ไม่รับผิดชอบต่อความถูกต้อง ความครบถ้วน หรือความน่าเชื่อถือของข้อมูลที่ปรากฏ และจะไม่รับผิดชอบต่อการดำเนินการใด ๆ ที่เกิดขึ้นจากเนื้อหานั้น เว้นแต่จะมีการระบุไว้เป็นลายลักษณ์อักษรอย่างชัดเจน

-จบ-