
Harga minyak dunia kembali melemah pada perdagangan Kamis (25/6) setelah kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan dari Timur Tengah mulai mereda. Normalisasi lalu lintas kapal tanker di Selat Hormuz menjadi faktor utama yang mendorong penurunan harga minyak dalam beberapa hari terakhir.
Minyak Brent tercatat turun di kisaran US$72 per barel, sementara minyak mentah AS (WTI) bergerak hampir menyentuh US$70 per barel. Penurunan ini membuat harga minyak kembali mendekati level sebelum konflik antara Amerika Serikat dan Iran memanas pada akhir Februari lalu.
35 Juta Barel Minyak Mulai Mengalir Kembali
Salah satu faktor terbesar yang menekan harga minyak adalah kembalinya kapal-kapal tanker yang selama berbulan-bulan tertahan di Teluk Persia. Data perusahaan pelacakan kapal Kpler menunjukkan lebih dari 20 kapal tanker yang membawa sekitar 35 juta barel minyak telah berhasil melewati Selat Hormuz sejak Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan sementara untuk membuka kembali jalur pelayaran tersebut. Selain itu, Oman juga membuka jalur pelayaran sementara untuk membantu mempercepat keluarnya kapal tanker yang sempat tertahan selama konflik berlangsung.
Sebagian besar kapal tersebut diperkirakan akan tiba di pasar Asia pada awal Agustus, meningkatkan pasokan global dan mengurangi risiko kekurangan minyak yang sebelumnya menjadi kekhawatiran utama investor.
Kondisi ini membuat pasar mulai membongkar premi risiko perang yang selama beberapa bulan terakhir mendorong harga minyak naik tajam.
Mengapa Harga Minyak Langsung Turun?
Pasar minyak sangat sensitif terhadap risiko pasokan. Ketika Selat Hormuz sempat terancam ditutup, investor khawatir pasokan global akan terganggu sehingga harga minyak melonjak tajam. Namun saat kapal tanker kembali bergerak dan pasokan mulai mengalir normal, premi risiko yang sebelumnya mendorong kenaikan harga minyak mulai menghilang.
Menurut analis Tony Sycamore, kecepatan pemulihan pasokan dari Timur Tengah bahkan lebih cepat dari yang diperkirakan banyak pelaku pasar. Hal inilah yang memicu aksi jual di pasar minyak dan menghapus sebagian besar kenaikan harga selama masa konflik.
Risiko Belum Sepenuhnya Hilang
Meski situasi membaik, trader masih perlu berhati-hati.
Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) mengeluarkan peringatan bahwa kapal-kapal yang melewati Selat Hormuz harus mengikuti jalur yang telah ditentukan oleh Iran. Teheran juga menegaskan bahwa kapal yang tidak mematuhi aturan tersebut dapat menghadapi tindakan penegakan.
Namun, lalu lintas kapal masih berada di bawah level normal sebelum perang. Data MarineTraffic menunjukkan jumlah kapal yang melintasi Hormuz memang meningkat tajam dibandingkan beberapa minggu lalu, tetapi masih berada di bawah rata-rata sebelum perang. Banyak operator kapal masih memilih pendekatan hati-hati karena ketidakpastian keamanan belum sepenuhnya hilang.
Analis dari RBC Capital Markets bahkan memperingatkan bahwa volume pengiriman minyak melalui Hormuz mungkin tidak akan kembali ke level sebelum konflik apabila Iran tetap mempertahankan pengaruh operasional yang besar di kawasan tersebut.
Citi Prediksi Brent Bisa Turun ke US$60
Prospek jangka menengah juga mulai berubah menjadi lebih bearish.
Bank investasi Citi memperkirakan harga Brent berpotensi turun ke kisaran US$60 - US$65 per barel dalam 6 hingga 12 bulan ke depan jika arus minyak melalui Selat Hormuz terus membaik dan konflik tidak kembali memanas.
Menurut Citi, deeskalasi konflik kini menjadi skenario utama pasar. Dengan kata lain, investor mulai melihat pasokan minyak global akan kembali melimpah setelah hambatan distribusi selama perang berakhir.
Hal Yang Perlu Diperhatikan Trader
- Perkembangan negosiasi damai AS dan Iran selama periode 60 hari.
- Volume kapal tanker yang berhasil melewati Selat Hormuz.
- Pernyataan resmi dari Iran terkait aturan pelayaran baru.
- Data persediaan minyak mentah AS dari EIA.
- Proyeksi permintaan energi global, terutama dari China dan Asia.
Kesimpulan
Penurunan harga minyak saat ini menunjukkan bahwa pasar mulai percaya pasokan global akan kembali stabil setelah Selat Hormuz dibuka kembali. Namun risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang, sehingga volatilitas masih berpotensi tinggi.
Bagi trader minyak, fokus pasar kini mulai bergeser dari ketakutan terhadap gangguan pasokan menuju kecepatan normalisasi arus energi global. Selama tidak ada eskalasi baru di Timur Tengah, tekanan turun pada harga minyak berpotensi berlanjut dalam jangka menengah.
คำชี้แจง (Disclaimer) : เนื้อหาข้างต้นเป็นเพียงมุมมองของผู้เขียนแต่เพียงผู้เดียว และไม่ได้แสดงหรือสะท้อนถึงจุดยืนอย่างเป็นทางการของ Followme แต่อย่างใด Followme ไม่รับผิดชอบต่อความถูกต้อง ความครบถ้วน หรือความน่าเชื่อถือของข้อมูลที่ปรากฏ และจะไม่รับผิดชอบต่อการดำเนินการใด ๆ ที่เกิดขึ้นจากเนื้อหานั้น เว้นแต่จะมีการระบุไว้เป็นลายลักษณ์อักษรอย่างชัดเจน



-จบ-