
Harga minyak dunia melonjak di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Pada perdagangan Asia hari Jumat pagi, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat bergerak menembus US$100 per barel, sementara Brent, patokan minyak internasional, menembus US$114 per barel dan mencapai level tertinggi sejak Mei 2026.
WTI
▲ > US$100
Per barel
Brent
▲ > US$114
Tertinggi sejak Mei 2026
Kenaikan ini terjadi karena pasar mengkhawatirkan potensi serangan baru Amerika Serikat (AS) dan Israel terhadap Iran, serta meningkatnya serangan kelompok Houthi yang didukung Iran terhadap wilayah dan infrastruktur energi Arab Saudi.

Ancaman Serangan ke Iran Dorong Harga Minyak
Salah satu pemicu utama kenaikan harga minyak adalah laporan bahwa militer AS dan Israel telah menyusun rencana untuk melancarkan serangan baru terhadap Iran setelah pemilu sela AS bulan depan. Menurut laporan The New York Times yang dikutip CNBC, sejumlah pejabat AS yang tidak disebutkan namanya menyatakan bahwa perencanaan operasi yang digambarkan berlangsung singkat tetapi intensif sedang berjalan.
Presiden AS Donald Trump juga mengatakan bahwa sesuatu akan terjadi terkait Iran dalam waktu relatif dekat. Namun, ia tidak memberikan rincian mengenai tindakan yang mungkin diambil dan menyebut bahwa banyak pihak memperkirakan perkembangannya akan terjadi setelah pemilu.
Pernyataan tersebut meningkatkan ketidakpastian karena belum ada kepastian mengenai waktu, bentuk, maupun skala tindakan militer yang mungkin dilakukan.
Bagi pasar minyak, risiko ini penting karena Iran merupakan salah satu produsen minyak utama di Timur Tengah. Konflik yang melibatkan Iran berpotensi mengganggu produksi, ekspor, dan jalur pengiriman minyak di kawasan tersebut. Jika gangguan pasokan benar-benar terjadi, pembeli minyak mungkin harus bersaing mendapatkan pasokan yang lebih terbatas. Kondisi ini dapat mendorong harga minyak naik lebih jauh.
Serangan Houthi dan Evakuasi Saudi Aramco Tambah Kekhawatiran
Tekanan terhadap pasar minyak juga datang dari meningkatnya serangan kelompok Houthi di Yaman terhadap Arab Saudi. Houthi mengklaim bertanggung jawab atas serangan terhadap pelabuhan Yanbu di pesisir Laut Merah. Laporan yang dikutip CNBC juga menyebut serangan terhadap Bandara Internasional King Fahd di Dammam pada Rabu, yang menewaskan sedikitnya dua orang dan melukai delapan lainnya, berdasarkan media pemerintah Saudi.
Di tengah meningkatnya risiko keamanan, Arab Saudi dilaporkan mengambil langkah pencegahan terhadap operasional energi. Menurut sumber yang dikutip Reuters, Saudi Aramco meminta staf di kantor pusatnya di Dhahran untuk meninggalkan kantor dan bekerja dari jarak jauh. AS juga memerintahkan pegawai pemerintah non-darurat dan keluarga mereka untuk meninggalkan Arab Saudi. Departemen Luar Negeri AS mengaitkan langkah itu dengan meningkatnya serangan Houthi terhadap sasaran sipil di negara tersebut.
Apa Dampaknya terhadap Inflasi dan Ekonomi Global?
Kenaikan harga minyak dapat merambat ke berbagai sektor ekonomi. Minyak merupakan bahan baku energi dan komponen biaya penting bagi transportasi, industri, serta distribusi barang. Jika harga minyak bertahan tinggi, biaya bahan bakar dan logistik berpotensi meningkat. Perusahaan dapat meneruskan sebagian kenaikan biaya tersebut kepada konsumen, sehingga menambah tekanan inflasi. Kondisi ini menjadi perhatian bank sentral. Jika kenaikan energi mendorong inflasi bertahan lebih tinggi, ruang untuk menurunkan suku bunga bisa semakin terbatas. Namun, respons bank sentral tetap bergantung pada kondisi inflasi secara keseluruhan, pertumbuhan ekonomi, dan pasar tenaga kerja.
Harga energi yang tinggi juga dapat memengaruhi mata uang. Negara yang mengimpor sebagian besar kebutuhan energinya berpotensi menghadapi tagihan impor lebih besar dan tekanan terhadap neraca perdagangan. Sebaliknya, negara pengekspor energi dapat memperoleh tambahan pendapatan, meskipun manfaatnya bergantung pada volume ekspor dan kondisi ekonominya.
Konsumen saat ini relatif berbeda dalam menghadapi kenaikan harga energi dibandingkan 20–30 tahun lalu. — David Wagner, Aptus Capital Advisors
Meski begitu, dampak ekonomi tidak selalu sama seperti pada krisis energi di masa lalu. Dengan kata lain, dampak akhir terhadap ekonomi perlu dilihat dari seberapa lama harga bertahan tinggi dan seberapa besar kenaikannya diteruskan ke konsumen.
Apa yang Perlu Diperhatikan Trader WTI dan Brent?
Bagi trader komoditas, lonjakan harga minyak menciptakan peluang sekaligus risiko. Pergerakan harga dapat menjadi sangat cepat ketika muncul berita baru mengenai konflik atau pasokan. Beberapa hal yang perlu dipantau antara lain:
Pernyataan resmi, perubahan rencana militer, atau tanda deeskalasi dapat mengubah ekspektasi pasar dengan cepat.
Perhatikan apakah serangan benar-benar mengganggu produksi atau pengiriman minyak, bukan hanya meningkatkan kekhawatiran.
Brent berada di level yang jauh lebih tinggi dalam laporan terbaru. Perbedaan harga keduanya dapat mencerminkan kondisi pasokan, permintaan, dan risiko di pasar yang berbeda.
Kenaikan harga yang didorong risiko geopolitik tetap perlu dibandingkan dengan kondisi fundamental, termasuk persediaan minyak dan prospek konsumsi global.
Berita geopolitik dapat memicu lonjakan harga dan pembalikan tajam. Penggunaan ukuran posisi yang sesuai dan batas risiko penting, terutama saat pasar bergerak tidak menentu.
Kesimpulan
Harga WTI yang menembus US$100 dan Brent yang menembus US$114 menunjukkan besarnya premi risiko geopolitik yang sedang diperhitungkan pasar. Bagi trader, fokus utama adalah membedakan ancaman terhadap pasokan dari gangguan yang benar-benar terjadi, sambil mewaspadai volatilitas tinggi akibat berita terbaru.
คำชี้แจง (Disclaimer) : เนื้อหาข้างต้นเป็นเพียงมุมมองของผู้เขียนแต่เพียงผู้เดียว และไม่ได้แสดงหรือสะท้อนถึงจุดยืนอย่างเป็นทางการของ Followme แต่อย่างใด Followme ไม่รับผิดชอบต่อความถูกต้อง ความครบถ้วน หรือความน่าเชื่อถือของข้อมูลที่ปรากฏ และจะไม่รับผิดชอบต่อการดำเนินการใด ๆ ที่เกิดขึ้นจากเนื้อหานั้น เว้นแต่จะมีการระบุไว้เป็นลายลักษณ์อักษรอย่างชัดเจน

-จบ-